Selasa, 19 Februari 2013 - 09:51:56 WITA
Mencari Solusi Bagi Penambang di Hutan Lindung
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Headline - Dibaca: 3113 kali

Martapura - Konflik sektor kehutanan dan pertambangan telah menjadi soroton berbagai pihak. Munculnya konflik ini diawali dengan keluarnya UU No.5/1990 mengenai Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistem. Pasal 33 UU tersebut melarang kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lainnya. Hal ini ditegaskan kembali dalam UU No.41/1999 tentang Perencanaan Pembangunan Kehutanan. Pada Pasal 38 ayat (4) disebutkan: ”Pada kawasan hutan lindung dilarang melakukan penambangan dengan pola pertambangan terbuka.” Hutan lindung, menurut pasal 1, adalah kawasan hutan yang menjadi penyangga kehidupan. Fungsinya antara lain mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah.

Penetapan lahan menjadi hutan lindung (KepMentan No.873/1980 dan KepMenhut No.453/1999) didasarkan tiga kriteria, yakni kemiringan lereng lahan, jenis tanah, dan intensitas hujan. Teknik scoring digunakan untuk menetapkan lahan menjadi hutan lindung. Scoring dilakukan dengan meng-overlay peta topografi untuk menentukan kelas lereng, peta tanah untuk menentukan kelas tanah dan data curah hujan. Dengan menetapkan kriteria standar dan teknis serta overlay peta maka ditemukan lokasi kawasan hutan lindung. Lahan yang mempunyai kemiringan lebih besar 40 persen atau lahan dengan tanah kelas 5 (sangat peka terhadap erosi) atau penjumlahan skor ketiga kriteria di atas 175 atau lahan dengan tinggi lebih dari 2000 m dapat ditetapkan menjadi hutan lindung.

Hal yang dipersoalkan kalangan pertambangan adalah kriteria penetapan hutan lindung, terutama batas, kriteria kemiringan lahan, ketinggian di atas 2000 m dan pelarangan penambangan secara tambang terbuka di hutan lindung.


Tumpang Tindih

                Protes ini didasarkan pada argumen tentang proses pembentukan bahan tambang di alam yang sangat beragam. Umumnya bahan tambang logam seperti emas, bijih besi, mangan dan lain-lain yang berupa endapan primer, terbentuk dari hasil kristalisasi cairan magma saat mengalir menuju permukaan bumi (diferensiasi magma). Saat magma mengalir ke atas (menuju permukaan bumi), terjadi penurunan suhu dan tekanan secara gradual (bertahap) sehingga pada suatu kondisi suhu dan tekanan yang sesuai akan terbentuk berbagai jenis mineral (mineralisasi) dengan konsentrasi (kandungan) yang bervariasi sesuai dengan jenis magmanya.

Selama proses pembentukan tersebut, mineral terkonsentrasi pada perangkapnya berupa berbagai jenis batuan di kerak bumi. Dalam kurun waktu yang lama, batuan-batuan yang mengandung mineralisasi mengalami berbagai proses geologi dan geokimia lanjutan —seperti tektonik, pelapukan, transportasi, pelindihan, konsentrasi, dan sebagainya— sehingga membentuk morfologi tertentu di permukaan bumi sesuai dengan tipe endapan. Batuan-batuan yang lemah akan mudah terkikis dan tertransportasi, sedangkan batuan-batuan yang lebih tahan terhadap pelapukan, seperti batuan beku, akan tersisa dan membentuk suatu morfologi lahan yang relatif tegak dan terisolir di daerah terpencil.

Oleh sebab itu, permukaan lahan di mana terdapat konsentrasi mineral-mineral yang terdapat pada batuan beku, pada umumnya menghasilkan atau berbentuk morfologi lahan yang tegak, sehingga tidak aneh banyak cebakan bahan tambang akan muncul pada lahan yang mempunyai kemiringan lereng tinggi. Di samping itu, keberadaan cebakan bahan tambang tidak dapat muncul di segala tempat. Dia hanya bisa ditemukan pada tempat-tempat yang memang sesuai dengan persyaratan pembentukannya. Di Kabupaten Banjar keberadaan cebakan logam muncul di wilayah Pegunungan Babaris atau Pegunungan Meratus di Kecamatan Sungai Pinang, Karang Intan dan Aranio sebagian kecil Pengaron.. Sebagian besar daerah mineralisasi ini, sesuai dengan proses genesa bahan tambangnya, umumnya terletak pada daerah yang mempunyai kemiringan lahan terjal, di atas 40 persen. Selain itu, adanya proses penerobosan batuan (intrusi) menyebabkan cebakan bahan tambang dapat terletak di daerah yang tinggi. Adanya kriteria ketinggian di atas 2000 m tentu saja dapat mengancam potensi cebakan ini tidak tergarap sebagaimana di Kecamatan Aranio, Karang Intan dan Sungai Pinang (jalur pegunungan Meratus).

Sebagai daerah yang terletak dijalur ekuator dan beriklim tropis, Indonesia umumnya dan Kabupaten Banjar khususnya mempunyai intensitas curah hujan relatif tinggi dengan intensitas curah hujan rata-rata 3000-4000 mm per tahun (Data Distan Prop.Kal-Sel  Th.1999 s/d 2003). Karena letaknya di daerah tropis maka potensi bahan tambang di daerah mineralisasi terletak pada daerah yang mempunyai rata-rata intensitas curah hujan sedang (di atas 200 mm/bulan) hingga tinggi (di atas 400 mm/bulan). Selain itu, letaknya di wilayah tropis membuat proses pelapukan tanah di Kabupaten Banjar menjadi intensif. Ini menyebabkan tanah di Kabupaten Banjar umumnya diklasifikasikan tanah peka terhadap erosi. Namun sisi lain, proses pelapukan merupakan salah satu proses penting dalam pembentukan bahan tambang nikel laterit dan kromit. Karena cebakan bahan tambang hanya muncul pada daerah tertentu maka industri pertambangan tidak bisa didirikan di sembarang tempat. Pertambangan hanya bisa dilakukan pada daerah yang memang mempunyai cebakan bahan tambang.

Dengan mempertimbangan ketiga kriteria penentuan hutan lindung di atas maka besar kemungkinan daerah mineralisasi di Kabupaten Banjar akan bertumpang-tindih dengan kawasan hutan lindung, hutan produksi terbatas dan hutan produksi tetap. Data pada Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Banjar memperlihatkan ± 41,13 persen daerah yang merupakan zona prospek mineral logam bertumpang tindih dengan kawasan konservasi. Karena sebagian besar daerah potensi bahan tambang bertumpang tindih dengan kawasan hutan lindung maka pengelolaan industri ini akan berpotensi konflik dengan sektor kehutanan. Sehingga dampak pelarangan melakukan aktivitas di hutan lindung menyebabkan bahan galian mineral sebagai salah satu aset daerah tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal.

 

Tambang Terbuka

Cebakan bahan tambang dapat muncul dekat permukaan atau jauh di bawah permukaan bumi. Nikel laterit, misalnya, terjadi sebagai hasil proses pelapukan mineral limonit dan saprolit. Proses pelapukan fisik dan kimia ini merupakan proses oksidasi yang hanya akan terjadi di permukaan bumi karena adanya oksigen, panas, hujan dan proses kimia lainnya. Karena cebakan nikel laterit berada dekat atau dipermukaan bumi maka kegiatan penambangan yang diterapkan adalah tambang terbuka (open cut mining).

Kabupaten Banjar mempunyai cadangan nikel laterit yang besar ditemukan keberadaannya di Kecamatan Aranio dan Sungai Pinang. Pelarangan penambangan secara tambang terbuka menyebabkan potensi nikel ini menjadi sia-sia. Pemilihan metode tambang bawah tanah atau tambang terbuka mempertimbangkan banyak faktor, antara lain letak endapan bahan tambang, kondisi geologi dan hidrogeologi, kondisi geoteknik batuan serta pertimbangan lingkungan, teknologi dan ekonomi.

Endapan emas dan batubara dapat berada di permukaan dan dalam bumi sehingga memungkinkan untuk ditambang secara tambang bawah tanah atau tambang terbuka.
Penambangan nikel laterit tidak dapat dilakukan dengan tambang terbuka. Karena letak endapannya dekat atau bahkan di pemukaan. Endapan aluvial zirkon, terbentuk dari hasil pelapukan batuan di permukaan yang tertranspor oleh alam, hanya dapat dilakukan dengan tambang terbuka di sekitar aliran sungai.

Pertimbangan utama penentuan metode penambangan adalah aspek teknis dan lingkungan baru dilanjutkan dengan aspek ekonomi. Dapat terjadi meski penambangan bawah tanah layak secara ekonomi akan tetapi karena kekuatan batuan di sekitarnya lemah maka penambangan bawah tanah tidak mungkin dilakukan, karena lubang penambangan akan mudah runtuh.

Kekuatan batuan ini dipengaruhi oleh adanya proses pelapukan dan umur formasi batuan. Daerah tropis, seperti di Kabupaten Banjar, karena proses pelapukannya relatif tinggi telah mengubah kekuatan batuannya menjadi rendah. Namun demikian, meski kurang ekonomis, sesungguhnya penambangan bawah tanah masih dapat menguntungkan. Di Afrika Selatan, banyak tambang emas dilakukan dengan penambangan bawah tanah yang sangat dalam. Meski kondisi geologinya sangat sulit namun ini dimungkinkan karena pemerintahnya sangat mendukung kegiatan pertambangan dan kejelasan peraturan menyebabkan nilai bahan tambangnya masih dapat mengompensasi biaya operasi penambangan.

Karena kondisi seperti inilah maka secara teknis usaha pertambangan di Kabupaten Banjar dilakukan dengan cara tambang terbuka. Sehingga pelarangan penambangan secara tambang terbuka di kawasan konservasi dapat menghentikan kegiatan pertambangan.

 

Kehutanan versus Pertambangan

Dalam hal tata guna lahan, sektor kehutanan kerap dikontroversikan dengan sektor pertambangan.  Pertambangan ditengarai mempunyai kontribusi besar terhadap menurunnya luas dan kualitas hutan.

Bidang pertambangan mengakui pentingnya suatu konservasi dari sistem alam. Sehingga Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Banjar memfokuskan kegiatan pengawasan terhadap dampak lingkungan kegiatan penambangan bersama instansi terkait lainnya. Kajian analisis dampak lingkungan, RPL dan RKL dan rencana penanganan lahan pascatambang merupakan syarat mutlak sebelum melakukan kegiatan pengajuan perizinannya, baik pengajuan perizinan awal, peningkatan kegiatan maupun perpanjangan perizinannya.

Di masa penambangan, perusahaan pemegang Kuasa Pertambangan di Kabupaten Banjar diwajibkan menyerahkan dana jaminan reklamasi dan laporan triwulan yang mencakup aktivitas penambangan hingga lingkungan. Pada tahap pascatambang, perusahaan berkewajiban melakukan pemantauan lingkungan selama beberapa tahun hingga dampak bekas penambangannya menjadi minimal. Kesemuanya merupakan kewajiban yang harus dipenuhi pemegang Kuasa Pertambangan untuk menunjukkan komitmen yang nyata terhadap pengelolaan lingkungan.

Dewasa ini di sektor pertambangan telah dikenalkan program untuk meminimalisir dampak kegiatannya terhadap lingkungan : Environmental Excellence in Exploration, Good Mining Practices dan Mine Closure Program, di mana perusahaan diwajibkan untuk mematuhi program ini.

Meski demikian diakui bahwa jika kegiatannya tidak ditangani secara benar maka pertambangan berpotensi merusak sistem ekologi. Kasus kerusakan lingkungan yang terjadi lebih banyak disebabkan karena kurangnya penanganan masalah lingkungan yang benar dan terkontrol. Di sini peran pemerintah, pusat dan daerah, dan kerjasama antarsektor sangat diperlukan untuk mengawasi kegiatan perusahaan. ***

Potensi Bahan Galian Mineral Logam di Kabupaten Banjar1

 

No

Mineral

Kecamatan

Lokasi

1.

Emas Plaser

Sungai Pinang

Paramasan Atas, Paramasan Bawah, Rantau Nangka, Sumber Harapan

 

 

Aranio

Artain, Poliin, Bunglai

2.

Nikel

Pengaron

Gn. Tiwingan

 

 

Karang Intan

Gn. Mlati, Gn. Pamaton

 

 

Aranio

Gn. Palawangan, Gn. Bukit Besar, Jungur, Artain

3.

Mangan

Pengaron

Gn. Batu Besi, Gn. Tiwingan

 

 

Karang Intan

Gn. Mlati, Gn. Pamaton

 

 

Aranio

Gn. Palawangan, Gn. Bukit Besar, Jungur, Artain

 

 

Astambul

Gn. Cemara

4.

Bijih Besi

Sungai Pinang

Paramasan Atas, Paramasan Bawah, Rantau Nangka, Sumber Harapan

5.

Kromit

Karang Intan

Gn. Palawangan Awang Bangkal Timur, Gn. Ratrabulu

 

 

Aranio

Gn. Manjam

 

1 Sumber data :

 

1. Potensi sumberdaya mineral di Kabupaten Banjar, Propinsi Kalimantan Selatan, KANWIL DPE, 1997.

2. Bahan Galian Industri, Pusat Penelitian dan Pengembangan   Teknologi Mineral, Bandung, 1999.

3. Laporan Inventarisasi dan Evaluasi Mineral Logam di Daerah Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tanah Laut Propinsi Kalimantan Selatan, Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral, Dirjen Geologi dan Sumber Daya Mineral, DESDM, 2001.

 

 Ditulis oleh : Sukamto, ST - Kasi Pengawasan Pertambangan Mineral Dan Batubara




301 Komentar :

30a Real Estate
20 Juni 2013 - 20:54:27 WITA

Meski kondisi ekonomi kita makin nggak karuan, mari tetap bersabar dan terus berusaha untuk kondisi lebih baik. Tetap berjuang, semangat dan berdo'a selalu.

Areas Keystone Real Estate
24 Juni 2013 - 08:36:11 WITA

Setiap pagi saya mencoba mencari berita dari internet tentang apa saja. Ya, karena disini bisa mendapat hal-hal yang bermanfaat yang sebelumnya belum tahu. Terima kasih untuk tulisan yang telah dimuat. Salam dari Areas Keystone Real Estate.

Lovegra
29 Juli 2013 - 09:16:25 WITA

Kita sambut hari dengan penuh semangat dan harapan. Masa depan tergantung bagaimana hari ini kita berbuat. Berbuat yang terbaik, untuk mendapat kebaikan.

Vakantiehuis Frankrijk
22 Agustus 2013 - 20:13:45 WITA

Sebagai ucapan terima kasih, saya menulis di ruang komentar ini. Telah banyak memberi informasi dan ulasan yang bermanfaat untuk kita, semoga semakin maju dan sukses. Salam sejahtera untuk kita semua.

Garcinia Cambogia
28 Agustus 2013 - 23:23:49 WITA

Jangan lelah untuk mencari ilmu karena segala sesuatu di dunia ini perlu ilmu, jika tak ada ilmu maka kita sama saja dengan orang mati, tak akan bisa berbuat apa-apa..

pulau pari
05 September 2013 - 03:26:01 WITA

artikel yang menarik untuk dibaca, dan juga bermanfaat untuk menambah wawasan kita.

Paket wisata Pulau Tidung
15 September 2013 - 04:14:33 WITA

mantab informasinya saya sangat setuju dengan infomasinya mantab saya tunggu infomasi yang berikutnya ya

pulau tidung
24 September 2013 - 19:13:12 WITA

info yang di berikan enak untuk di simak.tks

pulau tidung
29 September 2013 - 07:21:34 WITA

asik juga infonya


How To Become A Model
01 Oktober 2013 - 15:33:32 WITA

Success is achieved by development of our strengths, not by elimination of our weakness.

<< First | < Prev | 1 | 2 | 3 | 4 | ... | 31 | Next > | Last >>

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Copyright © 2012 Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Banjar. All rights reserved.